singalang mountain

Senin, 05 November 2012

Limbah dan Polusi Laut


LIMBAH DAN POLUSI
A.    LIMBAH
Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar.
Jenis-jenis Limbah
Jika didasarkan asalnya, limbah dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1. Limbah Organik
Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga, kegiatan industri. Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami. Limbah pertanian berupa sisa tumpahan atau penyemprotan yang berlebihan, misalnya dari pestisida dan herbisida, begitu pula dengan pemupukan yang berlebihan. Limbah ini mempunyai sifat kimia yang setabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya. Sedangkan limbah rumah tangga dapat berupa padatan seperti kertas, plastik dan lain-lain, dan berupa cairan seperti air cucian, minyak goreng bekasdan lain-lain. Limbah tersebut ada yang mempunyai daya racun yang tinggi misalnya : sisa obat, baterai bekas, dan air aki. Limbah tersebut tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya dan beracun, sedangkan limbah air cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya.
2. Limbah Anorganik
Limbah ini terdiri atas limbah industri atau limbah pertambangan. Limbah anorganik berasal dari sumber daya alamyang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat diperbaharui. Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan anorganik, zat-zat tersebut adalah :
Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang berasal dari kegiatan pertambangan dan industri.

Alat pemantau di Global Atmosfere Wacth bukit koto tabang


KERJA dan PROSES ALAT – ALAT
di Global Atmosfere Wacth

Ozon Permukaan (Ground Level Ozone) >> Pengamatan ozon permukaan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang telah dimulai sejak September 1996. Instrumen yang digunakan adalah Ozone Analyzer type TEI 49C dan Ozone Calibrator TEI 49 PS sebagai kalibrator. Mulai September 2006, instrumen pengamatan ozon ditambah dengan Ozone Analyzer type 49C, bantuan WMO-WCC EMPA, Swiss.
======
Karbon Monoksida >> Pengukuran Karbon Monoksida di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang mempergunakan dua jenis instrumen, yaitu TEI Type 48C dan HORIBA APMA360.
======
Koefisien Hamburan Cahaya Aerosol  >> Instrumen Pengukuran Aerosol PM10 di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang telah dilakukan sejak Maret 2004 dengan menggunakan instrumen M9003 Integrating Nephelometer buatan Ecotech, Australia. Hasil pengukuran parameter ini disajikan dalam suatu nilai yang disebut sebagai Scattering Coefficient (Koefisien Hamburan).
======
Massa Aerosol PM10 >> Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang menggunakan BAM 1020 untuk mengamati variabilitas aerosol PM10 di udara ambien. Aerosol PM10 merupakan salah satu parameter yang dijadikan acuan dalam penentuan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Global Atmosphere Watch di indonesia


SEJARAH TERBENTUKNA GAW
Cikal bakal terbentuknya GAW dimulai pada tahun 1950an ketika WMO membuat suatu program monitoring senyawa-senyawa kimia renik di atmosfer, dan juga melakukan penelitian polusi udara dari sudut pandang meteorologi. Pada tahun 1957, didirikanlah Global Ozone Observing System (GO3OS), yang bertanggung jawab dalam monitoring ozon. Tahun 1968, PBB mengadakan konferensi internasional yang membahas masalah lingkungan yang disebabkan oleh industrialisasi. Pada waktu yang hampir bersamaan, WMO membuat badan riset lingkungan lain, yaitu Background Air Pollution Monitoring Network.
Dalam konferensi yang dilaksanakan di Stockholm tahun 1972, PBB membahas beberapa masalah lingkungan, di antaranya:
  • Ancaman senyawa klorofluorokarbon (CFC) di atmosfer;
  • Asidifikasi danau dan hutan di Amerika Utara dan Eropa karena hujan asam;
  • Pemanasan global yang diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca.
Oleh karena itu, PBB melalui salah satu badannya, WMO, mengusahakan untuk dibentuknya suatu program yang dapat menangani masalah-masalah di atas. Akhirnya, pada tahun 1989, program GAW yang merupakan kombinasi antara GO3OS dan Background Air Pollution Network diluncurkan. GAW terdiri dari jaringan stasiun pengamatan di seluruh dunia dengan fasilitas pendukung yang dapat menyediakan data-data atmosferik, dan juga sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan komposisi kimia dan fisika di atmosfer yang dapat menjadi permasalahan lingkungan. Permasalahan itu meliputi kondisi lapisan ozon, konsentrasi gas rumah kaca, presipitasi kimia, dan ancaman hujan asam.

Minggu, 04 November 2012

bahan galian timah putih, bauksit, tembaga, timah hitam, seng, bismuth, antimon dan titan


A.     Timah putih
Timah merupakan logam dasar terkecil yang diproduksi, yaitu kurang dari 300.000 ton per tahun, apabila dibandingkan dengan produksi aluminium sebesar 20 juta ton per tahun. Timah putih merupakan unsur langka, kelimpahan rata-rata pada kerak bumi sekitar 2 ppm, dibandingkan dengan seng yang mempunyai kadar rata-rata 94 ppm, tembaga 63 ppm dan timah hitam 12 ppm. Sebagian besar (80%) timah putih dunia dihasilkan dari cebakan letakan (aluvial), sekitar setengah produksi dunia berasal dari Asia Tenggara. Mineral ekonomis penghasil timah putih adalah kasiterit (SnO2), meskipun sebagian kecil dihasilkan juga dari sulfida seperti stanit, silindrit, frankeit, kanfieldit dan tealit .
Asal mula timah di Indonesia adalah di daerah jalur timah yang membentang dari Pulau Kundur sampai Pulau Belitung dan sekitarnya diawali dengan adanya intrusi granit yang berumur ± 222 juta tahun pada Trias Atas. Magma bersifat asam mengandung gas SnF4, melalui proses pneumatolitik hidrotermal menerobos dan mengisi celah retakan, dimana terbentuk reaksi: SnF4 + H2O -> SnO2 + HF2 .
Cebakan bijih timah merupakan asosiasi mineralisasi Cu, W, Mo, U, Nb, Ag, Pb, Zn, dan Sn. Busur metalogenik terbentuknya timah 100 - 1000 km. Terdapat tiga tipe kelompok asosiasi mineralisasi timah putih, yaitu stanniferous pegmatites, kuarsa-kasiterit dan sulfida-kasiterit . Urat kuarsa-kasiterit, stockworks dan greisen terbentuk pada batuan beku granitik plutonik, secara gradual terbentuk stanniferous pegmatites yang ke arah dangkal terbentuk urat kuarsa-kasiterit dan greisen . Urat berbentuk tabular atau tubuh bijih berbentuk lembaran mengisi rekahan atau celah .

intrusi air laut


A.    Latar Belakang Masalah
Air merupakan sumber daya alam yang paling dasar dan komponen penting bagi kehidupan. Air digunakan untuk berbagai macam keperluan hidup seperti untuk pertanian, industri dan kebutuhan rumah tangga. Air merupakan sumber daya penting dalam penyediaan air di seluruh dunia. Jumlah air yang berada di laut sekitar  97%, 1,7% berada di kutub bumi yakni berupa es, 1,7% berupa airtanah dan 0,1% berada sebagai air pemukaan (Indarto, 46: 2007).
Menurut Soemarto (1995: 162) yang dimaksud dengan airtanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi. Airtanah berada dalam formasi geologi yang tembus air (permeable) yang disebut akuifer. Lapisan inilah yang akan mengalirkan airtanah untuk berbagai kebutuhan manusia.
Saat sekarang ini semakin berkembangnya peradaban manusia mengakibatkan kebutuhan air juga semakin meningkat, akan tetapi cara pengambilan airtanah sering kali tidak sesuai dengan prinsip hidrologi, terlebih di daerah pantai. Daerah pantai di suatu kota merupakan daerah di mana populasi penduduk cukup padat. Segala aktivitas terkonsentrasi di daerah pantai (Kodoatie, 1996: 242). Pengambilan lebih (over-exploitation) airtanah di daerah sekitar pantai dapat mengakibatkan melengkungnya tinggi permukaan airtanah (atas dan bawah) di sekitar sumur. Perkembangan lebih lanjut dari kegiatan pengambilan airtanah secara berlebih akan mengakibatkan terjadinya intrusi air laut ke arah sumur (Asdak, 251: 1995).